Rabu, 01 Mei 2013

Menuju Universitas Kelas Dunia


            Menilai tingkat kualitas pendidikan dan juga mutu sumber daya manusia di suatu negara dapat dilakukan dengan berbagai parameter. Salah satunya adalah dengan menilai peringkat perguruan tinggi yang ada di negara tersebut. Daftar peringkat universitas terbaik Asia 2011 telah diterbitkan oleh lembaga terkemuka pemeringkat perguruan tinggi dunia, Quacquarelli
Symonds (QS) menyebutkan  Universitas Indonesia menjadi yang terbaik di Indonesia dan bertengger di peringkat 50 Asia. Universitas Gajah Mada di peringkat 80, Universitas Airlangga di peringkat 86, dan Institut Teknologi Bandung ada di peringkat 98. Sementara Universitas Padjajaran ada di peringkat 128 dan Institut Pertanian Bogor ada di peringkat 134. Satu-satunya wakil Asia Tenggara dalam daftar 10 besar adalah Singapura melalui National University of Singapore (NUS). Daftar versi QS menunjukkan, Indonesia masih
kalah bersaing dengan Thailand dan Malaysia.
 
kampus UM
 
Hal ini sungguh sangat disayangkan, karena Malaysia yang dahulu belajar masalah pendidikan di Indonesia kini kualitas mereka jauh lebih maju dari pada Indonesia. Ketertinggalan kita dalam hal peringkat perguruan tinggi di lingkup Asia Tenggara tak lepas dari rendahnya minat menulis dan melakukan penelitian di lingkungan kampus baik itu yang dilakukan oleh mahasiswa maupun dosen. Oleh karena itu diperlukan suatu kebijakan untuk meningkatkan peringkat perguruan tinggi Indonesia di mata dunia. Baru-baru ini Kementerian Pendidikan Tinggi mengeluarkan surat edaran tertanggal 27 Januari 2012, bernomor 152/E/T/2012 perihal tentang Publikasi Karya Ilmiah (www.lampungpost.com), yang menyebutkan untuk kelulusan sebelum periode bulan Agustus tahun ini, selain skripsi, mahasiswa juga dituntut untuk membuat jurnal ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional. Suatu langkah konkret dari pihak Dikti menyikapi rendahnya jurnal yang dihasilkan oleh mahasiswa. Kebijakan tersebut untuk meningkatakan peringkat perguruan tinggi di Indonesia, Karena salah satu yang menjadi penilaian dalam pemeringkatan perguruan tinggi adalah seberapa banyak jurnal ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional.
Rendahnya minat mahasiswa maupun dosen dalam melakukan penelitian sangat disayangkan, karena penelitian merupakan tonggak utama aktifitas akademik di lingkungan kampus. Tanpa adanya riset ataupun penelitian yang dihasilkan oleh suatu perguruan tinggi, maka menjadi kuranglah nilai-nilai dari perguruan tinggi tersebut, karena salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah melakukan penelitian disamping pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Data yang dilaporkan oleh Science Direct, Elsevier menunjukkan bahwa sejak tahun 1996 output riset Indonesia adalah 500an dan hingga 2007 tetap masih kurang dari 1000 paper, sama dengan Filippina dan Vietnam, sementara Thailand sudah berada pada 1000an pada tahun 1996 dan melonjak mencapai 5500an pada tahun 2007. Malaysia pada tahun 1996 mempunyai output riset 1000an dan meningkat menjadi 3500an pada tahun 2007. Rendahnya publikasi ilmiah peneliti di perguruan tinggi di Indonesia pada jurnal ilmiah bereputasi internasional merupakan faktor penting terhalangnya perguruan tinggi Indonesia masuk ke  World Class University. Karena untuk menjadi World Class University harus mendapat penilaian dan pengakuan yang berskala internasional melalui akreditasi internasional. World Class University dapat difahami sebagai mekanisme perankingan dalam skala internasional. Jadi secara umum World Class  University adalah kampus-kampus yang menempati peringkat atas dalam pemeringkatan yang dilakukan oleh lembaga pemeringkatan berskala internasional.
            Langkah yang dilakukan oleh Dikti menurut penulis sudah tepat, karena dengan menerapkan kebijakan tersebut akan banyak manfaat yang diperoleh bangsa Indonesia pada umumnya dan Departemen Pendidikan Nasional pada khususnya dalam meningkatkan jumlah publikasi jurnal ilmiah di tingkat Internasional dan pada akhirnya akan meningkatkan jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam World Class University. Di samping itu juga untuk Meningkatkan Citation Index peneliti Indonesia, Membuka peluang-peluang penghargaan Internasional, Meningkatnya nilai produk Indonesia di pasar internasional akibat penerapan IPTEK, dan terciptanya iklim akademik yang bernuansa global. Dengan banyaknya perguruan tinggi Indonesia yang masuk dalam World Class University secara tidak langsung menunjukkan pengembangan sumber daya manusia yang semakin baik.

Mikrokontroler ATmega 8535

Mikrokontroller, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan microkomputer, hadir memenuhi kebutuhan pasar (market need) dan teknologi baru. Sebagai teknologi baru, yaitu teknologi semi konduktor dengan kandungan transistor yang lebih banyak namun hanya membutuhkan ruang kecil serta dapat diproduksi secara massal (dalam jumlah banyak) sehingga harga menjadi lebih murah (dibandingkan
microprocessor). Sebagai kebutuhan pasar, mikrokontroler hadir untuk memenuhi selera industri dan para konsumen akan kebutuhan dan keinginan alat-alat bantu dan mainan yang lebih canggih serta dalam bidang pendidikan.
     Microcontroller ATmega8535 merupakan salah satu keluarga dari MCS-51 keluaran Atmel. Jenis Microcontroller ini pada prinsipnya dapat digunakan untuk mengolah data per bit ataupun data 8 bit secara bersamaan. Beberapa fasilitas yang dimiliki oleh microcontroller ATmega8535 adalah sebagai berikut :


1. Saluran I/O sebanyak 32 buah terbagi menjadi 4 port.
2. ADC sebanyak 6 saluran dengan 4 saluran 10 bit dan 2 saluran 8 bit.
3. Tiga buah timer counter, dua diantaranya memiliki fasilitas pembanding.
4. CPU dengan 32 buah register.
5. EEPROM sebesar 512 byte.
6. Empat buah programable port I/O yang masing-masing terdiri dari delapan buah jalur I/O. 7. Memori flash sebesar 8K bites system Self-progamable Flash.
8. Kemampuan untuk melaksanakan operasi aritmatika dan operasi logika.
9. Kecepatan dalam melaksanakan instruksi per siklus 1 mikrodetik pada frekuensi 16 MHz.
 
Konstruksi ATmega8535
 
 

Microcontroller ATmega8535 hanya memerlukan tambahan 3 kapasitor, 1 resistor dan 1 kristal serta catu daya 5 volt. Kapasitor 10 micro-fard dan resistor 10 kilo Ohm dipakai untuk membentuk rangkaian riset. Dengan adanya rangkaian riset ini ATmega8535 otomatis diriset begitu rangkaian menerima catu daya. Kristal dengan frekuensi maksimum 24MHz dan kapasitor 30 mikro-farad dipakai untuk melengkapi rangkaian oscilator pembentuk clock yang menentukan kecepatan kerja Microcontroller. 
 
Microcontroller memiliki dua macam memori yang sifatnya berbeda, yaitu :
 
1.      Read Only Memory (ROM) yang isinya tidak berubah meskipun IC kehilangan catu daya. Sesuai dengan keperluannya, dalam susunan MCS-51 memori penyimpanan program ini dinamakan sebagai memori program. 
2.      Random Access Memory (RAM) isinya akan sirna begitu IC kehilangan catu daya, dipakai untuk menyimpan data pada saat program bekerja. RAM yang dipakai untuk menyimpan data ini disebut sebagai memori data.

Ada berbagai jenis ROM. Untuk Microcontroller dengan program yang sudah baku dan diproduksi secara massal, program diisikan kedalam ROM pada saat IC Microcontroller dicetak dipabrik IC. Untuk keperluan tertentu Microcontroller menggunakan ROM yang dapat diisi ulang atau Programble-Eraseable ROM yang disingkat menjadi PROM (PEROM). Jenis memori yang dipakai untuk memori program ATmega8535 adalah flash PEROM, program untuk mengendalikan Microcontroller diisikan ke memori itu lewat bantuan alat yang dinamakan sebagai ATmega8535 flash PEROM Programmer.
 
ATmega8 dilengkapi UART (Universal Asyncronous Receiver/Transmiter) yang biasa dipakai untuk komunikasi data secara seri. Jalur untuk komunikasi data seri (RXD dan TXD) diletakkan berhimpitan dengan P1.0 dan P1.1. pada kaki nomor 2 dan 3, sehingga kalau sarana input/output bekerja menurut fungsi waktu. Clock penggerak untaian pencacah ini bisa berasal dari oscillator kristal atau clock yang diumpan dari luar lewat T0 dan T1/T0 dan T1 berhimpitan dengan P3.4 dan P3.5, sehingga P3.4 dan P3.5 tidak bisa dipakai untuk jalur input/output paralel kalau T0 dan T1 dipakai. (Setiawan Afrie, Mikrokontroler ATmega8535, Andi, Jakarta, 2010)
 

Transformator


1. Definisi :

  • Sebuah alat yang berfungsi mengubah nilai suatu tegangan abb (e1) menjadi nilai tegangan abb yang lain (e2) pada frekwensi dan daya yang tetap.
  • e1 disebut tegangan primer
  • e2 disebut tegangan sekunder
  • Jika e1<e2 : trafo step up (penaik tegangan)
  • Jika e1>e2 : trafo step down (penurun tegangan)
2. Konstruksi

gambar trafo 1 fasa
  • Sebuah inti/teras tertutup terbuat dari baja dinamo/transformator berbentuk U dan I atau E dantempat meletakkan belitan primer (N1) dan belitan sekunder (N2)
  • Inti/teras dibuat berlapis-lapis dan setiap lapis dilaminasi dengan isolasi berbentuk film yang tipis: untuk membatasi arus foucault.
  • N1 dan N2 dililitkan pd inti, teg yang kecil didekat inti dan teg yg besar di luarnya
3. Sistem Pendingin

  • Sistem pendingin udara
  • Sistem pendingin udara yg dipaksakan
  • Sistem pendingin minyak
  • Sistem pendingin minyak yg dipaksakan
  • Minyak trafo bersifat isolasi dan tdk boleh mengandung : zat asam, zat belerang, zat alkali dan air 

         4.  Macam-macam Trafo

  • Trafo daya : step up atau step down 1 fasa atau 3 fasa
  • Autotransformator: trafo dengan hanya 1 belitan
  • Trafo Ukur : Trafo arus dan trafo tegangan
  • Trafo dengan tap changer
  • Trafo frekwensi : trafo IF, trafo MF


 5. gambar Simbol Trafo
simbol trafo step up

simbol trafo step down

simbol auto transformator

simbol trafo dengan tap charge



        

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha , Edited by Herman